Kembali ke Tulisan
ceritapendeksekali

Senang (Cerita Pendek Sekali)

A couple of man and woman holding hands, rings on their ring fingers.

Image by Natalia Sobolivska, unsplash.com

Kuingatkan untuk jangan tertawa, setidaknya tahanlah sedikit. Akan kuceritakan cerita pendek satu laki-laki yang selalu kutemui di sebelahku saat hendak bangkit dari tempat tidurku, dan satu pertanyaan menggelikan yang terlalu ikonik dengannya meskipun sering kudengar dari sinetron-sinetron yang episodenya ratusan, sering kubaca saat iseng menghabiskan waktu menatap cerita-cerita berkualitas buruk di Wattpad.

“Aku berhasil nggak, bikin kamu senang hari ini?”

Sungguh menggelikan.

Aku ingat betul pertama kali pertanyaan itu mampir di telingaku. Kalimat yang kemudian menjadi kewajiban setiap kali kita bertemu. Saat itu kencan pertama kami; dia mengantarku pulang, lalu melontarkan pertanyaan aneh itu sebagai salam perpisahan hari di depan gerbang rumah. Geli!

Seperti yang kubilang, pertanyaan itu jadi wajib — bukan bagiku, melainkan baginya — untuk ditanyakan setiap kali kami bertemu. Tentu beberapa kali kencan kami berjalan tidak begitu baik, tapi pertanyaan itu tetap ada meski intonasinya bervariasi tergantung kualitas emosi saat itu.

Sebenarnya, ada satu waktu pertanyaan itu tidak muncul bahkan setelah aku mulai masuk ke halaman rumahku. Waktu itu kupikir dia sekadar lupa saja, tidak masalah bagiku. Laki-laki yang tangannya selalu gemetar disertai asam lambung yang tiba-tiba naik — karena gugup katanya — setiap kali kita bertemu itu lalu turun dari mobilnya dan menghampiriku sekali lagi.

“Aku bisa bikin kamu senang lebih dari ini.”

Apa ini? Semacam ritual perpisahan baru? Orang ini memang sering berlaku aneh walau selalu senang aku dibuatnya.

“Kita bisa hidup sama-sama. Nikah, ayo nikah. Aku mau ketemu kamu setiap hari, bangun setiap pagi di samping wajah kamu yang tanpa make-up. Aku mau kita senang sama-sama setiap hari, lalu punya anak-anak yang akan kita sayangi bagaimanapun mereka terlahir dan membuat mereka senang setiap hari.”

Ya, seperti itu saat dia mengajakku menikah. Saat ini kami punya dua anak yang lucu, dan seperti janjinya, dia membuat kami senang setiap hari.

Saat kutulis ini, laki-laki itu sedang tidur. Atau setidaknya, sedang mencoba beristirahat. Tubuhnya terbaring di ranjang rumah sakit, berjuang melawan serangan tiba-tiba, serangan jahat serupa seperti yang mengambil ayahnya dulu. Kau tahu apa yang dikatakannya saat pertama kali siuman tadi malam?

Suara paraunya yang hampir hilang berbisik, “Aku berhasil kan, bikin kamu senang?”

Kalian pasti mengerti bagaimana reaksiku saat orang yang kucintai terbaring seolah lumpuh lalu saat bangun mengeluarkan kalimat menggelikan itu, tanpa konteks yang jelas, seperti orang yang mau mati sebentar lagi. Bisa-bisa aku yang mati mendadak saat itu juga, untungnya dokter yang memeriksa sudah memberitahuku bahwa masa kritisnya sudah lewat dan dia hanya perlu istirahat sebentar lagi dan akan bisa kembali ke rumah.

Akan kutulis ulang tulisan ini di kertas lalu melemparnya ke muka laki-laki aneh itu saat dia sudah di rumah nanti. Biar dia akhirnya sadar, ritualnya menggelikan, pertanyaan yang memuakkan. Juga biar dia tahu, aku selalu senang dibuatnya. Aku bahkan sangat bahagia.


Comments (0)

Belum ada komentar. Mari aja lah kalau mau komeng, aku sule.

Balas komentar