Selamat (Cerita Pendek Sekali)
Image by Rochelle Lee, unsplash.com
Selasa sampai Kamis, setiap pagi di hari-hari itu, kursi tengah yang mepet ke dinding biasanya sudah terisi. Meja bulat di depannya dihiasi sebuah laptop hitam yang pasti membuat pundakku butuh dipijat setiap pekan jika harus kubawa ke mana-mana dengan ransel. Maklum, suara kipasnya saja sudah bisa menyaingi deru mesin grinder kopi kami!
Aku dan penghuni bar lainnya tentu sudah hafal wajah pemilik set kursi dan meja itu: seorang laki-laki berusia awal dua puluhan.
Tidak pernah ada obrolan. Kami hanya saling melempar senyum setiap kali ia memesan yang itu-itu saja: satu gelas kopi susu karamel. Yang kami tahu, ia hampir selalu datang pada waktu yang sama dan duduk di tempat yang sama. Perkiraanku, mungkin karena kursi favoritnya itu tidak menghadap langsung ke pendingin ruangan, jadi tidak terlalu dingin, tetapi juga tidak panas.
Hari ini sudah Minggu. Sepanjang Selasa sampai Kamis kemarin, ia tidak muncul, seolah hilang. Namun, kata teman-temanku yang berjaga pada Sabtu - saat aku libur - ia datang.
Tas ransel besar yang lebih cocok dipakai naik gunung sehari semalam itu tidak lagi tergantung di pundaknya. Hanya membawa wajahnya yang lebih ramah dari biasanya, lebih lepas, seolah memang baru saja membuang beban beberapa ton dari sana.
Kopi susu karamel seperti biasa, duduk sebentar barang tiga puluh menitan, lalu pamit pulang dengan menyapa barista yang berjaga.
"Terima kasih, kemarin saya sudah sidang. Besok mau pulang kampung dulu."
Ah, ternyata benar ia seorang mahasiswa.
Mungkin untuk beberapa waktu ke depan kami tidak akan lagi melihat meja tengah itu terjajah kabel-kabel pengisi daya gawai-gawai miliknya. Tidak ada lagi bising kipas laptop yang terdengar seolah di luar sedang hujan.
Selamat!
Comments (0)
Belum ada komentar. Mari aja lah kalau mau komeng, aku sule.
Balas komentar