Ramadan Pandemi
Bulan Ramadan tahun ini (sangat) berbeda. Pada kondisi normal, biasanya bulan suci ini diisi dengan berbagai macam tradisi yang unik, hanya ada di bulan ini. Sahur on the road, jalan-jalan setelah subuh, ngabuburit, belanja takjil, buka bersama, tarawih di masjid, et cetera. Tahun ini, semua berbeda, berterima kasihlah pada virus corona. (tentu saja ini sarkas)
Biasanya, setelah pulang dari tarawih di masjid saya masih akan mendengar suara-suara dari masjid lainnya yang belum selesai salat, atau yang sehabis salat masih melanjutkan dengan tadarusan. Dilarangnya warga berkumpul atau berkerumun pun berimbas pada kebiasaan ini. Tahun ini saya salat tarawih di rumah, masjid pun hening kecuali saat azan. Semua masjid di sekitar tempat saya tinggal memang memutuskan untuk meniadakan salat berjamaah, sampai memasang baliho di depan pagar masjid. Saya sendiri tidak tahu apakah buka bersama di masjid masih diadakan, karena selama ramadan ini saya memang buka puasa di rumah.
Tahun ini tidak akan ada malam pasang lampu (Tumbilotohe) di Gorontalo, tempat saya tinggal. Tidak ada Pasar Senggol yang biasanya mulai dibuka pada pertengahan ramadan. Bahkan jumlah penjual takjil dadakan pun sangat berkurang dibanding tahun-tahun yang lalu. Banyak tradisi tahunan yang ditiadakan.
Menurut para ahli, wabah ini masih akan berlangsung setidaknya hingga bulan Juni mendatang. Artinya, bulan Ramadan kali ini memang harus berbeda. Jika memang begitu, maka Idulfitri akan kita rayakan di rumah masing-masing, dan tidak ada salat Ied berjamaah di lapangan (yang ini paling membuat saya sedih).
Semua orang yang merindukan ramadan pasti merasa sedih dengan kondisi yang ada. Tapi apakah ini hal yang baik atau tidak, tergantung pada bagaimana kita memaknainya. Mungkin biasanya kita ikut berpuasa karena semua orang puasa, tarawih karena semua orang berkumpul di masjid, bermaaf-maafan di hari raya karena memang trennya di hari itu saja. Memang kalau mau jujur bertanya pada diri, sebenarnya apa yang dirindukan dari Ramadan? Vibes yang hanya ada di bulan ini? Atau kemuliaan yang terdapat di dalamnya?
Tentu kita tidak merasakan suasana atau vibes tahun-tahun sebelumnya. Jadi, mungkin inilah kesempatan kita membuktikan kerinduan dan kecintaan pada Ramadan. Kalau memang cinta, tentu kualitas ibadah kita sama baiknya, atau bahkan harus lebih baik dari Ramadan 'normal'.
Pandemi Covid-19 memang ujian. Menguji seberapa besar kadar keimanan dan ketakwaan kita kepada Tuhan.
Gorontalo, 29 April 2020
6 Ramadan 1441 H
Comments (0)
Belum ada komentar. Mari aja lah kalau mau komeng, aku sule.
Balas komentar