Kembali ke Tulisan
blog

Organisasi Mahasiswa dan Kenyamanan di Dalamnya (How to not be a Budak Proker)

Kalau gak nyaman dan terbebani, gak ada salahnya memikirkan untuk berhenti.

Kalimat itu mungkin yang akan saya katakan kepada diri sendiri jika suatu saat merasa berat dalam organisasi, atau ke orang-orang lainnya yang merasakan hal tersebut. Anggota organisasi biasanya dipenuhi ekspektasi kerja yang besar dan berat dari pimpinannya, padahal kerja yang dimaksud bersifat sukarela (tidak dibayar). Sudah tidak dibayar, dievaluasi pula kinerjanya secara rutin. Kalau gak bagus, kena marah sana sini, kena sanksi ini itu oleh organisasinya. Gimana kalau sekali-sekali dibalik dulu, anggota mencoba mengevaluasi organisasi (baca: jajaran pimpinannya), seberapa nyaman organisasi tersebut bagi anggota-anggotanya untuk berkembang dan berproses (bukan bekerja).

DISCLAIMER: Organisasi di sini adalah semua kegiatan organisasi mahasiswa seperti lembaga, badan, UKM, kepanitiaan, komunitas, dan sebagainya.

Evaluasi organisasi ini bisa kita mulai dengan pertanyaan berikut: Kenapa orang ikut organisasi?

Ini penting ditanyakan, karena organisasi tidak akan pernah berjalan tanpa adanya anggota yang mau secara SUKARELA mengorbankan tenaga dan waktunya untuk bekerja di bawah tekanan (dan mungkin ambisi) para pimpinan organisasi. Kebanyakan orang mengikuti organisasi karena ingin mencari pengalaman atau berkembang sebagai mahasiswa. Ada yang ingin menjalankan peran dan fungsi mahasiswa, ada juga yang sekadar ingin menambah nilai partisipasi kegiatan mahasiswa sebagai syarat kelulusan, ada yang ingin cari teman, dan bahkan ada yang karena memang sesuai dengan minat atau passion-nya. Dari contoh-contoh jawaban ini, bisa dibilang, adalah ekspektasi dari tiap anggota sebelum bergabung. Ekspektasinya adalah ingin menambah pengalaman, mencari teman, atau mengerjakan sesuatu yang sesuai minat. Gak ada yang berekspektasi jadi budak proker.

Ini harusnya cukup untuk menyadarkan pihak organisasi (selain anggota yang dimaksud), bahwa selain anggota punya kewajiban bekerja sesuai tugasnya, organisasi yang menaungi juga wajib memenuhi ekspektasi mereka. Kenapa? Mari kita ulang, karena organisasi tidak akan pernah berjalan tanpa adanya anggota yang mau secara SUKARELA mengorbankan tenaga dan waktunya untuk bekerja di bawah tekanan (dan mungkin ambisi) para pimpinan organisasi. Anggota sudah berusaha memenuhi ekspektasi dan tuntutan tinggi organisasi, kan?

Kenyataannya, kebanyakan organisasi mahasiswa (ormawa) sekarang mengabaikan ini. Kenyataannya, para anggota dibebani dengan tuntutan yang tinggi, rapat sampai pagi yang bertubi-tubi hampir setiap hari, dan hilangnya waktu istirahat anggota. Kenyataannya, iming-iming yang ditawarkan adalah: semua akan indah pada waktunya, saat melihat hasil kerja kita ❤. Tapi, ya, gimana, ya?

Evaluasi dilanjut dengan pertanyaan: sudahkah anggota-anggota tercinta ini nyaman berada di dalam organisasi? Iya, ormawa harusnya tidak hanya mengevaluasi kinerja anggota sukarela ini, tapi juga memastikan, mereka bekerja dengan nyaman dan mendapatkan apa yang mereka ekspektasikan. Baik ekspektasi pribadi maupun ekspektasi lingkungan organisasi yang baik.

Sebagai yang pernah dan sedang merasakan menjadi anggota dan pimpinan ormawa, saya juga harus mencari jawaban dari evaluasi ini. Sebagai pimpinan, sudahkah saya membuat anggota nyaman bekerja bersama dan memenuhi ekspektasi mereka? Sebagai anggota, sudahkah saya merasa nyaman? Saya sedang memikirkan jawaban untuk keduanya.

Karena sejatinya, organisasi adalah tempat mahasiswa tumbuh, berkembang, dan berproses menjadi lebih baik.

Kalau kamu, sudahkah kamu merasa nyaman? Kalau gak nyaman dan terbebani, gak ada salahnya memikirkan untuk berhenti.


Comments (0)

Belum ada komentar. Mari aja lah kalau mau komeng, aku sule.

Balas komentar